Ahlan Wahsalan :)TQ

Friday, 31 January 2014

Taubatlah Anytime,Anyhow,Anywhere more anda more Allah is ready to accept!!







Di dalam Al Qur’annya yang suci, melalui perantara malaikat-Nya yang mulia, dan disampaikan oleh nabi-Nya yang agung, Allah swt berfirman:


يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً۬ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ يَوۡمَ لَا 

يُخۡزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُ ۥ‌ۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيہِمۡ وَبِأَيۡمَـٰنِہِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬


“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  (Surat At Tahrim ayat 8)


Para da’i dan muballigh sering menyampaikan bahwa minimal ada tiga syarat taubat kita akan diterima oleh Alloh swt, yaitu 
(1) beristigfar atau mohon ampun sesaat setelah melakukan perbuatan ‘salah’ itu, 
(2) berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan ‘salah’ itu, 
(3) mengganti perbuatan yang ‘salah’ itu dengan perbuatan-perbuatan baik lainnya. 

Itulah mungkin syarat minimal taubat kita diterima oleh Allah swt. Para da’i dan muballigh tidak henti-hentinya menyampaikan itu, tapi kenyataannya bagaimana?? Apakah sudah sesuai dengan syarat itu?? Hanya Allah dan diri kita yang tahu. Kerana terkadang orang memandang kita terlalu ‘lebih’, memberikan penilaian yang tidak sesuai dengan keadaan aslinya. Kerana memang manusia tidak ada yang tidak pernah berbuat salah, kecuali Nabi yang maksum dari perbuatan dosa. 

Karana sifat lahiriah itulah, maka setiap manusia pernah bertaubat, dan Allah swt dan dirinya yang mengetahui kualitas taubatnya itu.

Namun yang terjadi dari kebanyakan diri manusia, kerana sifat lahiriah yang mereka miliki itu, terkadang mereka tidak sadar bahwa mereka sering ‘bermain’ dengan Tuhannya melalui perantara taubat itu. Betapa tidak, dalam ‘syarat’ taubat terdapat ‘perjanjian’ untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat/kesalahan yang pernah dilakukan dan dilakukan taubat atas itu. ‘perjanjian’ yang ada dalam taubat ini yang sering ‘dipermainkan’ oleh kebanyakan manusia secara sadar ataupun tidak sadar. Saat kesalahan itu tiba, taubat itu pun kembali terjadi, dan ‘janji’ itupun kembali terucap. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi manakala ‘perjanjian’ itu kita ingkari dengan kembali berbuat kemaksiatan/kesalahan yang sama, apalagi dalam rentang waktu yang tidak lama, maka apakah pantas kita sebut diri kita itu sebagai manusia yang taat atas ‘perjanjian’ dalam taubat kita? Kerana itulah, kenapa saya menyebut kita sering ‘bermain’ dengan Tuhan melalui taubat. Maksiat terjadi, taubat mengiringi, maksiat terulangi, taubat menemani, begitulah seterusnya.


Disisi lain, seperti yang sudah disebut di atas, kita menyadari bahwa manusia memang tempat khilaf dan salah. Manusia akan selalui diiringi dengan niatan-niatan untuk berbuat maksiat, dan mengulangi perbuatan maksiat itu. Tapi apakah pantas kita ‘bermain’ dengan Tuhan kita melalui kata taubat itu? Semoga saja Tuhan kita, Allah swt yang maha agung, maha pengampun, maha pengasih dan penyayang menganggap kita tidak ‘bermain’ dengan taubat itu.


   لَّذِينَ يَحۡمِلُونَ ٱلۡعَرۡشَ وَمَنۡ حَوۡلَهُ ۥ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّہِمۡ وَيُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَا وَسِعۡتَ ڪُلَّ شَىۡءٍ۬ رَّحۡمَةً۬ وَعِلۡمً۬ا فَٱغۡفِرۡ لِلَّذِينَ تَابُواْ وَٱتَّبَعُواْ سَبِيلَكَ وَقِهِمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ


(malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. (Surat Al Mu’min ayat 7)

Ya Robb, yang dapat membolak-balikkan hati manusia
Kami mohon ampunan-Mu setiap saat
Kami sadar, kami manusia dhoif dan berselimut dosa
Kami sadar, kami manusia yang penuh dengan kelemahan
Tutupilah aib-aib yang kami miliki dihadapan manusia
Karena jikalau setiap manusia tahu aib kami, maka kehinaanlah bagi kami
Ya Robb, bimbinglah hati kami menuju redhamu
Tunjukilah kami selalu jalan yang lurus
Tambahkanlah ilmu dan kuatkan pemahaman kami
Jagalah kami dari perbuatan dosa yang senantiasa membayangi kami
Ya Robb, terima dan peliharalah taubat kami
Jadikanlah taubat kami taubataan nasuhaa
Taubat yang senantiasa engkau terima
Amin…
Alhamdulillahirobbil ‘alamin…

No comments:

Post a Comment